<![CDATA[NAS Consulting & Research | Konsultan riset, survey, dan startup di Jakarta - Blog]]>Sat, 28 Dec 2019 11:01:46 +0700Weebly<![CDATA[Berapa waktu yang dibutuhkan untuk menjadi 'cukup jago' dalam suatu hal?]]>Mon, 11 Nov 2019 16:39:08 GMThttps://ptnas.id/blog/berapa-waktu-yang-dibutuhkan-untuk-menjadi-cukup-jago-dalam-suatu-hal
Kamu mungkin sudah mengenal kurva di atas. Kurva belajar (atau learning curve) menunjukkan grafik pertumbuhan performa (atau level keahlian) yang kamu dapatkan dalam satu periode.

Kurva belajar ternyata tidak sesimpel grafik linear, di mana kemampuanmu akan bertambah dengan konstan seiring perjalanan waktu. Kenyataannya, ada beberapa fase yang dilalui seseorang saat mempelajari sesuatu.

Fase awal belajar akan terasa sangat lama dan berat. Ini adalah fase di mana kamu harus menyesuaikan diri dengan berbagai hal baru. Fase berikutnya, kamu akan mengalami pertumbuhan yang cepat. Terakhir, ada satu titik di mana pertumbuhan kemampuanmu akan terasa sangat panjang.

Di tengah dua fase terakhir ini, ada satu titik kritis yang bisa kita sebut sebagai titik optimal. Titik ini adalah fase di mana kita bisa menganggap diri kita “cukup jago”.

Untuk mencapai titik ini, penulis Josh Kaufman dalam sebuah sesi TED Talk mengatakan bahwa kita hanya membutuhkan waktu sekitar 20 jam, atau sekitar 45 menit selama satu bulan lamanya. Menurut Kaufman, waktu dua puluh jam adalah waktu yang umumnya diperlukan tiap orang untuk mempelajari apa pun. Tidak semua orang perlu dan punya cukup waktu menjadi ahli terhadap suatu bidang keahlian.

Untuk kamu yang ingin belajar sesuatu yang baru, mulai dari belajar bermain ukulele, mengendarai mobil, bermain catur, atau hal-hal yang berhubungan dengan skill profesional, seperti membuat situs web, ataupun membuat infografik, perlu diingat bahwa tidak mungkin untuk menjadi ahli sesuatu dalam satu malam. Tapi jika kamu mau sedikit berusaha, kamu bisa menjadi ”cukup jago” dalam waktu yang relatif singkat.

Seperti kata perusahaan sebelah, mulai aja dulu!

(sumber: techinasia.com)
]]>
<![CDATA[Mancakrida.. Outbound.. Team Building]]>Fri, 11 Oct 2019 17:15:11 GMThttps://ptnas.id/blog/mancakrida-outbound-team-buildingPengertian
Mancakrida
 (bahasa InggrisOutbound) adalah bentuk pembelajaran perilaku kepemimpinan dan manajemen di alam terbuka dengan pendekatan yang unik dan sederhana tetapi efektif karena pelatihan ini tidak sarat dengan teori-teori melainkan langsung diterapkan pada elemen-elemen yang mendasar yang bersifat sehari-hari, seperti saling percaya, saling memperhatikan serta sikap proaktif dan komunikatif. Dimensi alam sebagai objek pendidikan bisa menjadi laboratorium sesungguhnya dan tempat bermain yang mengasyikan dengan berbagai metodenya.

Sejarah
Ide pendidikan inovatif ini dikreasikan oleh Kurt Hahn, seseorang berkebangsaan Jerman.

Tujuan
  1. Mengetahui dan memahami adanya “individual differences” yaitu tiap individu adalah unik.
  2. Mampu melakukan penilaian pada diri sendiri “Self Assessment” bahwa kekuatan diri ada pada tangan kita sendiri dan pada pilihan- pilihan kita.
  3. Meningkatkan kepekaan “Self Awareness” terhadap orang lain.
  4. Meningkatkan kepercayaan diri dan keberanian mengambil risiko “Risk Taking Behavior”.
  5. Meningkatkan ketrampilan komunikasi.
  6. Mampu membuat perencanaan dengan pertimbangan risiko dan konsekuensinya.
  7. Mampu membentuk tim yang efektif / kekompakan.
  8. Meningkatkankemampuan kepemimpinan.
  9. Menumbuhkan sikap ksatria dan sportif.

Tahukah Anda?
Bahwa SeriouzFun, divisi experiential learning organizer dari NAS Consulting & Research bisa membantu Anda untuk merencanakan event, kegiatan untuk outing, outbound, outward boundteam building​ atau mancakrida yang khusus disesuaikan dengan jumlah personil, tantangan yang dihadapi, dan lokasi yang diinginkan. KONSULTASI GRATIS dengan menghubungi whatsapp 0812-8415-9855.

Berikut adalah salah satu program team building yang telah kita lakukan untuk PT Dexa Medica.
]]>
<![CDATA[Microproductivity, solusi supaya kamu tidak stres dengan pekerjaan kantor.]]>Wed, 02 Oct 2019 08:14:24 GMThttps://ptnas.id/blog/microproductivity-solusi-supaya-kamu-tidak-stres-dengan-pekerjaan-kantorPicture
Beberapa hari terakhir saya merasa sangat overwhelmed dengan kesibukan saya, baik itu di dalam pekerjaan maupun di kehidupan personal. Kalau saja Naruto menawarkan saya untuk mempelajari jurus ninja Kagebunshin-no-jutsu, pasti saya tidak akan menolaknya :p 

Karena ilmu membelah diri belum bisa saya pelajari hingga detik ini, maka langkah logis yang saya tempuh adalah berselancar di internet untuk mencari artikel motivasi. Dan kebetulan saya menemukan artikel dari Trello yang pas untuk masalah saya.

Perkenalkan, Microproductivity.

Sederhananya, Microproductivity merupakan kiat memecah pekerjaan yang besar menjadi komponen-komponen kecil. Menurut Melissa Gratias, seorang productivity coach, alih-alih melihat sebuah pekerjaan besar sebagai momok yang menakutkan, memecahnya menjadi komponen kecil akan merubah cara pandang kita. 

Ini erat kaitannya dengan keterbatasan yang dimiliki oleh otak manusia. Sadarkah kamu bahwa ketika kita membaca, otak kita lebih sering melakukan scanning ketimbang reading?  (Jujur, apakah kamu cuma membaca kalimat yang di-bold? Ya, saya sengaja melakukannya.) Otak kita pun lebih menyukai membaca listicle ketimbang artikel panjang. 

Lantas apa hubungannya dengan Microproductivity? Sama halnya dengan membaca artikel, memecah tugas besar  ke dalam komponen kecil (contohnya, ke dalam to-do-list atau checklist) ini membantu otak kita mencerna pekerjaan besar tersebut. Hasilnya, ini memudahkan kita untuk mengidentifikasi bagian mana yang harus dikerjakan pertama kali, tugas mana yang paling penting dan urgent, dan apa langkah yang selanjutnya harus diambil.

Sumber: TIA EDU, Tech-in-Asia

]]>
<![CDATA[Wealth Paradox]]>Mon, 16 Sep 2019 02:58:41 GMThttps://ptnas.id/blog/wealth-paradoxPicture
"Semakin byk uang yg dimiliki, semakin cepat kemungkinannya utk habis."

Teman2 yg pernah konsultasi dgn saya pasti tahu kl saya selalu bilang manusia pny standar hidup masing2, ada yg sdh kaya masih gila kerja, krn buat dia standar hidupnya blm tercapai. Ada yg incomenya biasa tapi santai, krn buat dia standar hidupnya sdh terpenuhi.

Bila income sdh melampaui standar hidup, biasanya orang mulai berpikir utk memanfaatkannya. Yg bijak akan berpikir utk buka bisnis, investasi, tabungan, dll. Yg krg bijak mungkin alokasi ke yg aneh2, misalnya: koleksi mobil-tas-sepatu mahal, judi, dll.

Krn dianggapnya uang lebih/duit sisa, maka cenderung utk easy going. Begitu dengar saran orang, padahal tdk pny experience sama sekali, nekat nyebur dgn alasan kalau toh rugi gpp, nanti di rem.
Padahal kl sdh nyebur, ini spt narkoba... nagih... sampai tdk sadar inject duit lagi... dan lagi... smp akhirnya uang yg harusnya utk memenuhi standar hidup jadi kepakai dan akhir cerita dia bangkrut.

Picture

"Kekayaan bukan soal brp byk uang yang kamu miliki, tapi ttg apa yg tersisa saat kamu kehilangan semua uangmu."

Kamu sadar gak kl begitu byk saran kontradiktif yg berseliweran di sekitar kita.
Paling dekat adl cuitan temen2 kita di twitter, facebook, atau linkedin ttg teori kesuksesan.
Ada agen nyinyir: "ngapain lo kerja bertahun2, gak bisa pergi kemana2. gw di Asuransi X, kerja 1 thn saja sdh bisa ke luar negeri gratiss..."  
Ada juga motivator bilang: "cara terbaik utk menjadi kaya adalah berdagang, berbisnis..."
Terus pesan Ayah sama anaknya: "belajar yg pinter, kerja di perusahaan bagus, biar hidupmu senang..."

Beberapa dari kita mungkin aware juga perdebatan Jack Ma, founder Alibaba dengan Elok Musk, founder Tesla dan SpaceX, tentang Artificial Intelligence (AI), keduanya punya pendapat yg berseberangan. Tapi nyatanya keduanya adl orang super sukses.

Kemudian kalau Anda pernah membaca ttg Ray Kroc, pemilik Mc.Donald's pernah berkata: "dalam berbisnis, Anda harus nekat mengambil resiko." Tapi Warren Buffet, pemilik Berkshire, perusahaan investasi terbesar di dunia mengatakan: "resiko itu datang karena Anda tidak tahu apa yg dilakukan, krn itu Anda harus teliti dan berhati2."

Bingung gak? Mana yg harus diikuti?

Nah utk mengatasi kebingungan itu, ternyata sejak 5000 thn yg lalu bangsa China sdh membuat yg namanya I-Ching yang kemudian dimodernisasi menjadi Genius Test.
Silakan Anda scan QR-Code di samping ini atau klik http://bit.ly/geniustestid untuk mengambil testnya, GRATISSSS.... !!!
Anda akan diminta register terlebih dulu baru bisa mengikuti testnya. Harap gunakan email yg biasa Anda gunakan, karena nanti Report-nya akan dikirimkan ke email Anda.

Secara singkat, test ini akan menunjukkan Anda masuk kelompok mana dari 4 kelompok yg ada:
  • Dynamo genius = musim Semi = elemen Kayu
  • Blaze genius = musim Panas = elemen Api
  • Tempo genius = musim Gugur = elemen Tanah
  • Steel genius = musim Dingin = elemen Logam

Saya tdk akan membahas detil mengenai testnya, intinya adalah Anda disarankan mengikuti saran dan jejak orang-orang sukses yang sesuai dengan kelompok Anda, supaya bisa satu ritme dan memang secara bakat dan kepribadian Anda akan lebih cocok dengan orang-orang tersebut.
Misalnya saja, Anda seorang Steel genius, maka mengikuti jejak Ray Kroc adalah pilihan yang tepat, sementara jika Anda seorang Tempo genius, maka Warren Buffet adalah role-model yang sesuai.

Apabila ada pertanyaan atau ingin diskusi lebih lanjut, bisa langsung whatsapp ke: 0812-8415-9855.

]]>
<![CDATA[5 Lessons for your Office life]]>Sun, 08 Sep 2019 04:52:03 GMThttps://ptnas.id/blog/5-lessons-for-your-office-life
Lesson 1:
A man is getting into the shower just as his wife is finishing up her shower, when the doorbell rings.
The wife quickly wraps herself in a towel and runs downstairs.
When she opens the door, there stands Bob, the next-door neighbor.
Before she says a word, Bob says, 'I'll give you $800 to drop that towel.'
After thinking for a moment, the woman drops her towel and stands naked in front of Bob, after a few seconds, Bob hands her $800 and leaves.
The woman wraps back up in the towel and goes back upstairs.
When she gets to the bathroom, her husband asks, 'Who was that?' 'It was Bob the next door neighbor,' she replies. 'Great,' the husband says, 'did he say anything about the $800 he owes me?'

Moral of the story:
If you share critical information pertaining to credit and risk with your shareholders in time, you may be in a position to prevent avoidable exposure.


Lesson 2:
A sales rep, an administration clerk, and the manager are walking to lunch when they find an antique oil lamp.
They rub it and a Genie comes out. The Genie says, 'I'll give each of you just one wish.' 'Me first! Me first!' says the admin clerk. 'I want to be in the Bahamas , driving a speedboat, without a care in the world.' Puff! She's gone.
'Me next! Me next!' says the sales rep. 'I want to be in Hawaii , relaxing on the beach with my personal masseuse, an endless supply of Pina Coladas and the love of my life.'
Puff! He's gone.
'OK, you're up,' the Genie says to the manager. The manager says, 'I want those two back in the office after lunch.'

Moral of the story:
Always let your boss have the first say.


Lesson 3:
An eagle was sitting on a tree resting, doing nothing.
A small rabbit saw the eagle and asked him, 'Can I also sit like you and do nothing?' The eagle answered: 'Sure, why not.'
So, the rabbit sat on the ground below the eagle and rested. All of a sudden, a fox appeared, jumped on the rabbit and ate it.

Moral of the story:
To be sitting and doing nothing, you must be sitting very, very high up.


Lesson 4:
A turkey was chatting with a bull.
'I would love to be able to get to the top of that tree' sighed the turkey, 'but I haven't got the energy.' 'Well, why don't you nibble on some of my droppings?' replied the bull. They're packed with nutrients.'
The turkey pecked at a lump of dung, and found it actually gave him enough strength to reach the lowest branch of the tree.

The next day, after eating some more dung, he reached the second branch.
Finally after a fourth night, the turkey was proudly perched at the top of the tree.
He was promptly spotted by a farmer, who shot him out of the tree.

Moral of the story:
Bull Sh*t might get you to the top, but it won't keep you there..


Lesson 5:
A little bird was flying south for the winter. It was so cold the bird froze and fell to the ground into a large field.
While he was lying there, a cow came by and dropped some dung on him.
As the frozen bird lay there in the pile of cow dung, he began to realize how warm he was.
The dung was actually thawing him out!
He lay there all warm and happy, and soon began to sing for joy. A passing cat heard the bird singing and came to investigate.
Following the sound, the cat discovered the bird under the pile of cow dung, and promptly dug him out and ate him.

Morals of the story:
(1) Not everyone who sh*ts on you is your enemy.
(2) Not everyone who gets you out of sh*t is your friend.
(3) And when you're in deep sh*t, it's best to keep your mouth shut!


#happyweekend
#NASconsulting
]]>
<![CDATA[Outbound Games Preview by SeriouzFun]]>Fri, 16 Aug 2019 01:56:13 GMThttps://ptnas.id/blog/outbound-games-preview-by-seriouzfun
Perusahaan Anda ingin:
  • mengadakan rekreasi yang seru dan berkesan untuk karyawan
  • mempererat kerja sama (team-work) antar karyawan
  • mengetahui siapa talent yang memiliki leadership yang kuat,
  • mengetahui siapa talent yang memiliki otak yang smart dan creative
  • mengetahui siapa saja yang hobinya blaming, excuse, dan segudang alasan lainnya

Ayo segera hubungi kami di: 0812-8415-9855 atau operation@ptnas.id - pastikan perusahaan Anda menjadi lebih berdaya tahan menghadapi Tahun 2020 - Era Society 5.0.
]]>
<![CDATA[Tidak Ada Produk Yang Tidak Bisa Dijual??]]>Tue, 23 Jul 2019 15:55:43 GMThttps://ptnas.id/blog/tidak-ada-produk-yang-tidak-bisa-dijual

“Tidak ada produk yang tidak bisa dijual, hanya cara menjual nya saja yang salah” 
Anda percaya sama kalimat itu?
Saya ENGGAK. Pernyataan tadi BULLSHIT dan delusional, menurut saya.
Bukannya saya menakut-nakuti atau membunuh semangat Anda yang sedang berkobar pengen “action-action-action.” Bukan nya saya mau Anda menunda-nunda untuk langsung ngebut bikin bisnis. Semangat boleh, tapi jangan gitu-gitu amat lah. 
 
Saya sedang mengajak Anda semua untuk rasional. Bahaya lho, over-optimistic di awal. Terlalu optimis di awal, bisa membuat Anda cepat putus asa dan akhirnya MENYERAH di bulan-bulan pertama. 
Faktanya, 90% orang yang saya kenal dan terlalu optimistis, dimana pikiran positifnya ini delusional tidak berdasarkan data, akan menggebu-gebu di awal buka bisnis, terus ujung-ujungnya setelah action 2 bulan dan target belum tercapai, akhirnya malah frustasi dan bilang “Saya mau ganti produk aja ah.” Waduduh, ngulang dari awal lagi dong kita..
Mungkin sebagian juga pernah mengalami yang saya alami. Kami pernah berbulan-bulan berusaha menjual sebuah produk, dan tidak laku. Kami pun pernah menjual produk yang cepat sekali laku nya, padahal baru di jual sebentar. Bahkan pernah dalam 24 jam pertama langsung laku ratusan unit produk dan tembus penjualan di atas Rp 1 Miliar.
 
Yang terakhir itu jarang sekali terjadi. Rejeki-rejekian. Mayoritas 99% produk, butuh 6 bulan - 1,5 tahun proses optimasi (action-evaluasi-perbaikan) sampai akhirnya ketemu formulanya, tembus keluar dari zona UMKM. Yang kayak-kayak gini malah biasanya tahan lama. Kokoh kuat pondasinya. 
Jadi, suka ataupun tidak suka, potensi pasar setiap produk memang tidak sama. Kalau dapat produk yang paaas banget, Anda beruntung. Kalau dapat yang laku tapi belum laku-laku banget, tidak apa-apa. Kita poles terus. Nanti ketemu.
Alokasikan waktu yang cukup untuk pemilihan produk. Saya sarankan, Anda sedia 8-12 jam untuk riset mendalam tentang penentuan produk sebelum mengambil keputusan. Dan 8-12 jam untuk melakukan validasi (pengkajian ulang supaya makin yakin).

Kalau masih bingung juga, boleh lho menghubungi NAS Research di: 0812-8415-9855 atau email: operation@ptnas.id untuk diskusi mengenai riset dan bagaimana mengevaluasi kebutuhan pasar.

*) artikel dikutip dari Santara Marketplace

konsultan manajemen bisnis jakarta agency riset litbang agency riset jakarta studi kelayakan bisnis jakarta konsultan manajemen bisnis tangerang selatan studi kelayakan bisnis tangerang selatan agency riset tangerang selatan studi kelayakan bisnis bekasi agency riset bekasi konsultan manajemen bisnis bekasi agency riset jawa barat studi kelayakan bisnis jawa barat konsultan manajemen bisnis banten agency riset banten

]]>
<![CDATA[Apakah training itu penting??]]>Tue, 23 Jul 2019 14:47:34 GMThttps://ptnas.id/blog/apakah-training-itu-penting
Jawabannya “SUPER PENTING”

​Tujuan dari training adalah kalibrasi. Memastikan begitu masuk menjadi anggota tim, new employee langsung tuned.
Nyambung dengan anggota tim yang lain. 
Nyambung secara budaya kerja, nyambung secara skill.

Menambah tim belum tentu meningkatkan output, kalau tidak ada sinergi. 
Talent bagus sekalipun kalau tidak bisa kompak dengan tim dan menyesuaikan dengan budaya kerja di bisnis kita malah menimbulkan konflik baru. Banyak pemilik dan top management perusahaan frustasi karena hal ini.

"Ditambah orang, kok performa malah turun !?" demikian yang banyak didengungkan.
Sinergi adalah ketika 1+1 =  LEBIH DARI 2. 
Ini yang kita cari.. 

Kenyataannya, kalau tidak terkalibrasi dengan baik, 1+1 = kurang dari dua. Malahan jadi tidak efektif.
Lalu harus gimana, harus nambah orang atau tidak? Kalau mau Scale-Up, jawabannya adalah harus.

Dari hasil riset mengenai perekrutan karyawan, diperoleh formula bagaimana training yang powerfull bagi bisnis yang sedang ingin melakukan Scale-Up.
Kita perlu memberikan 2 macam Training sekaligus kepada karyawan baru:

Pertama, Attitude Training
Ini penting banget, karena setiap orang datang dengan pikiran, karakter, belief system yang berbeda-beda. dan ketika dia masuk ke tim kita, dia perlu menyamakan presepsi atau setidaknya kita membuat dia mampu beradaptasi dan mengeluarkan semua potensi yang dia miliki.
Dalam training ini metode-metode yang menarik, fun, tapi tetap powerfull adalah pilihan utama. Materi trainingnya mulai dari company culture, company values, etika dan peraturan perusahaan, dll.  sesuai posisi tim baru tersebut.

Kedua, Knowledge and Skill Training
Training ini berhubungan dengan skill dan pengetahuan day-to-day yang harus dikerjakan, misalnya: dengan siapa saja dia akan banyak berinteraksi, apa saja KPI / target yang diharapkan perusahaan, produk atau solusi apa yang harus dipelajari, alur kerjanya seperti apa,  dan lain sebagainya.
Ini perlu kita sampaikan agar di hari-hari pertama dia bekerja, tidak lagi canggung dan bingung mau ngapain, melainkan dapat langsung bekerja secara efektif.
Bingung untuk merancang training atau harus mulai dari mana? Jangan ragu untuk hubungi NAS Consulting di: 0812-8415-9855 atau email di: operation@ptnas.id. Kita akan berikan konsultasi gratis mengenai hal tersebut.
]]>
<![CDATA[Empat masalah yang sering dialami ketika hendak berbisnis]]>Sat, 06 Jul 2019 19:20:40 GMThttps://ptnas.id/blog/empat-masalah-yang-sering-dialami-ketika-hendak-berbisnis

1. Gak punya ide sama sekali

Kalau gak punya ide sama sekali, ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan.
Pertama, mulai dari apa yang bisa kita lakukan. Buat daftar kemampuan yang menonjol dan kira-kira bisa dijual. Setiap orang punya bakat sendiri-sendiri.
Misal: pintar masak, pintar mengajar, pintar membuat sesuatu, punya hoby tertentu, atau sejenisnya.
Nah itu yang dijadikan bisnis.
Bisnis pertama kan? Jadi gak usah terlalu muluk-muluk.
Kuncinya adalah memulai. Kalau pun gagal, biasanya kegagalan itu akan membuka pintu rezeki berikutnya.
Karena sebenarnya, dalam bisnis tidak ada kegagalan. Yang ada hanya berhasil atau belajar.. 🙂

Selain pendekatan tersebut, kita bisa gunakan pendekatan kedua, yaitu: mulai amati sekitar, cari masalah yang dialami banyak orang, lalu ciptakan solusinya. Inilah dasar bisnis.
Bisnis sebenarnya hadir untuk menyelesaikan masalah orang lain dengan profesional.

Ilustrasinya begini,
  • Ada orang lapar, lalu muncul bisnis toko yang menyediakan bahan makanan.
  • Tokonya sudah ada, tapi malas masak, lalu muncul bisnis tempat makan.
  • Sudah banyak orang yang jual makanan, orang mencari makanan yang enak, lalu muncul bisnis seperti itu.
  • Setelah banyak tempat makan yang enak, orang mencari tempat makan yang nyaman, lalu muncul bisnis seperti itu.
  • Setelah banyak tempat makan yang nyaman, orang mencari tempat makan yang unik, lalu muncul bisnis seperti itu. Dan begitu seterusnya.
Masalah orang akan selalu ada, dan ketika Anda menyediakan solusinya, itu akan jadi peluang bisnis.

Kemudian, masih ada pendekatan ketiga, yaitu dengan cara: googling, riset, jalan-jalan cari ide, dan bertanya.
Ada banyak sekali ide bisnis, jadi jangan bingung mau bisnis apa?

Kalau ternyata mentok juga, pakai pendekatan keempat, yaitu: jadi reseller atau affiliate aja dulu, alias jualkan produk orang lain. Ini sah-sah saja koq. Menariknya, dengan jadi reseller atau affiliate, ini bisa jadi peluang belajar sebelum punya produk sendiri.
Kapan lagi? belajar sambil menghasilkan, hehe.
 

2. Punya ide tapi bingung apa yang harus dilakukan pertama kali

Yang ini jauh lebih mudah dari masalah pertama.
Kalau sudah ada idenya, maka yang perlu dilakukan adalah proaktif.
Bayangkan saja bisnis kamu sudah berjalan. Persiapkan semua kebutuhannya.
Jika saat mencoba kemudian mentok di tengah jalan, maka berpikirlah untuk mencari jalan keluar.
Mulai putar otak. Sebagai pengusaha kita memang dituntut untuk proaktif, jangan sekedar menunggu.

 
3. Bingung kebanyakan ide

Nah, ini lebih aneh lagi. Kalau kebanyakan ide, kenapa gak di buka bisnisnya?
Kalau kebanyakan ide, pilihlah salah satu yang bisa dibuka paling cepat.
Walaupun yang bisa dibuka paling cepat bukan pilihan yang terbaik, tapi memang begitu alurnya.
Otak pengusaha itu butuh latihan.
Jadi, setelah melakukan analisa dan perhitungan yang wajar, segera buka bisnisnya.
Cepat dibuka... cepat juga merasakan hasilnya... Proaktif.

 
4. Sudah punya produk, tapi gak tau harus ngapain

Punya produk, tapi gak tau selanjutnya harus ngapain?
Selanjutnya yaaa… belajar jualan.
Berbisnis itu untuk mendatangka uang, dan uang itu datangnya dari aktivitas jualan.

Demikian cara-cara memulai bisnis yang efektif.
Masih bingung... masih galau juga…??
Hubungi NAS Consulting & Research saja deh, nanti kami pandu step-by-step nya.
Salam.

konsultan manajemen bisnis jakarta agency riset litbang agency riset jakarta studi kelayakan bisnis jakarta konsultan manajemen bisnis tangerang selatan studi kelayakan bisnis tangerang selatan agency riset tangerang selatan studi kelayakan bisnis bekasi agency riset bekasi konsultan manajemen bisnis bekasi agency riset jawa barat studi kelayakan bisnis jawa barat konsultan manajemen bisnis banten agency riset banten
]]>
<![CDATA[Dependent... Kebergantungan dengan tempat kerja]]>Wed, 03 Jul 2019 15:05:27 GMThttps://ptnas.id/blog/dependent-kebergantungan-dengan-tempat-kerjaSelama kita bekerja dengan orang lain, selama kita bekerja membangun kerajaan orang lain status kita adalah “dependent”.

Bergantung dengan sesuatu.

Misalnya kita adalah pegawai bank, bagian pemasaran deposito. Ketika terjadi perubahan arah dalam perusahaan kita bekerja, dari retail banking menjadi digital banking misalnya. Mendadak anda bisa “un-employ” alias menganggur, karena banyak tenaga mansuia di gantikan teknologi.

Disebut “dependent” karena kita bergantung dengan perusahaan kita bekerja. Bergantung kepada keputusan top manajemen mengenai strategi. Apabila strategi tepat perusahaan bertumbuh, strategi gagal perusahaan bangkrut.

Saat ini di Indonesia kaum pekerja ini lebih dari 40 juta orang. Mulai dari “blue collar worker” atau buruh kerja secara fisik, hingga “white collar worker” atau para pekerja professional di kantoran yang lebih mengutamakan ketrampilan, jaringan bisnis, ilmu pengetahuan, dan pikiran berstrategi.

Sekali lagi, hampir semua termasuk kategori “dependent”, kebergantungan. Saya katakan hampir semua karena masih ada lagi yang membedakan diantara mereka, yaitu mereka yang punya “proven track record” akan mudah mendapatkan pekerjaan baru dikala perusahaan lama mengalami tutup, bangkrut, atau mengubah arah perusahaan. Mereka dengan cepat bisa mendapatkan “income“ lagi, walaupun masih ada bergantungnya, nganggur nya nggak akan lama.

Di sisi bawah, yang un-skill dan un-educated ditambah lagi mereka dependent maka kelompok ini sangat sulit untuk survive jangka panjang. Kompetisi mereka banyak. Lapangan kerja terbatas sekali di level ini.

Jadi, sekarang bagaimana kunci sukses-nya? Jika seseorang berada di strata terbawah, maka lakukan hal berpindah strata, jadi skill, educated, dan “independent”. Syarat yang harus di ingat: keberpindahan strata ini dari bawah ke atas, jangan bergantung pada siapapun.
Jangan bergantung pada seseorang, jangan tergantung pada pemerintah, jangan bergantung pada atasan, apalagi bank, dan jangan bergantung pada orangtua.

Dia harus sanggup hanya bergantung pada dirinya sendiri, dan pada Tuhannya Yang Maha Kuasa.
]]>