Perlombaan Lari Dikejar Beruang | Singa | Harimau

Cerita ini sudah banyak yang tahu, saya cuma menceritakan ulang untuk menyemangati sahabat, kolega, bahkan anggota team saya.

Ceritanya begini…
Suatu ketika, team dari suatu media bertugas untuk mengamati perilaku beruang. Tentu Anda tahu beruang yang asli itu galak dan ganas, tidak seperti We Bare Bears atau Winnie The Pooh.

Setiap hari selain mengambil foto dan video, mereka sebenarnya harus bersaing antar teman sendiri. Ya.. karena begitu beruang merasa terusik, maka yang larinya paling lambatlah yang jadi santapan si beruang.

Ini sebenarnya sama persis situasinya di kantor kita. Tidak hanya dimasa pandemi seperti sekarang, bahkan juga dalam kondisi normal. Kita tidak perlu jadi yang tercepat, tapi PASTIKAN Anda bukan yang paling lambat. Kalau tidak… Mungkin besok giliran Anda yang dipecat!

Sekali lagi bukan cuma karena pandemi ada PHK. Ada kawan saya yang sudah bekerja 5 tahun pun menyerah dari kantornya, karena tiba-tiba sang pimpinan memasukan staf baru, yang walaupun seumuran, tapi lebih gesit dan lebih pandai. Kalau sudah begini, apakah Anda sudah punya Plan B? Siapkah Anda? Yuk ngobrol!

credit foto: tribun-news
#arieflestadi #nasconsulting #lifecoach #familycoach #businesscoach

 

 

Bekerja itu Ibadah, Jabatan itu Amanah

Ini bukan kalimat saya tapi kalimat mentor saya yg bercerita; beliau pernah marah dengan staf keuangannya. Btw, beliau pensiunan direktur grup swasta yg berkantor di Sudirman dgn ratusan anak perusahaan.

Ceritanya begini; menjelang lunch, beliau melihat bapak tua bersandar di samping kasir pembayaran vendor. Beliau menyapa dan bertanya, “Mengapa wajah Bapak terlihat kecewa?” Sang Bapak menjawab; dia sdh berjalan jauh dan macet utk ambil uang, tapi loket sdh tutup. Memang pembayaran hanya hari tertentu jam 10-12 dan saat itu belum jam 12.

Pak Direktur lalu ke dalam dan bertanya pada staf yg bertugas mengapa belum jam 12, loket sdh tutup? Dgn enteng stafnya menjawab, “Tadi sdh tdk ada orang. Lagipula Bapak tua itu tagihan kecil, cuma katering 10 juta. Biar saja dia menunggu smp istirahat siang selesai.”

Kontan beliau naik pitam, dan berkata “10 juta utk kamu mungkin kecil, namun bisa jadi sangat besar untuk vendor. Yg milyaran dibantu dgn senyum, krn biasanya ada donat atau roti utk kamu. Yg kecil kamu pasang muka ketus.”
“Kamu baru saja merusak ibadahmu. Krn kamu tdk amanah dgn jabatanmu.”

Ya..jgn kira Tuhan cuma ada di masjid atau gereja. Tuhan juga ada di tempat kerja. Semoga kita semua selalu ingat utk memberikan yg terbaik dlm pekerjaan kita.

Oleh: Arief Lestadi

 

 

Documentation Is Very Important

Once a banker was traveling by train. He was traveling from Johor Bahru to Kuala Lumpur. He was traveling alone.

Sometime later, a beautiful lady came and sat in the opposite berth. The banker was pleasantly happy.

The lady kept smiling at him. This made the banker even happier.

Then she went and sat next to him. The banker was bubbling with joy.

She then leaned towards him and whispered in his ear, “Hand over all your valuables, cash, cards, mobile phone to me or else I will shout and tell everybody that you are harassing and misbehaving with me.”

The banker stared blankly at her. He took out a paper and a pen from his bag and wrote, “I cannot hear or speak. You write on this paper whatever you want to say.”

The lady wrote everything that she said earlier and gave it to him. The banker took her note, kept it in his pocket.

He got up and told her in clear tones, “Now shout & scream!”

MORAL OF THE STORY: DOCUMENTATION IS VERY IMPORTANT

Siapa yang di perusahaannya masih belum mendokumentasikan SOP dan Instruksi Kerja?
Stress harus mengajari berulang-ulang setiap ada karyawan baru?
Kami bisa membantu… Hubungi kami segera. Konsultasi Gratis!

 

 

 

 

Langkah-langkah mencapai tujuan itu sederhana

Langkah-langkah mencapai tujuan itu sederhana, yang bikin susah itu Anda sendiri!

Kami yakin Sobat NAS pernah melihat gambar seperti di atas ini.
Cara atau Langkah mencapai Goal atau Tujuan, entah itu urusan pribadi ataupun bisnis/pekerjaan ya as simple as that, sederhana sekali langkah-langkahnya:
1. Set Goal atau Tujuan
2. Buat Plan atau Rencana/Tahapan yang hendak dilakukan
3. Eksekusi atau jalankan Rencana/Tahapan yang dibuat
4. Konsisten untuk menjalankan Rencana/Tahapan sampai …
5. Goal atau Tujuan tersebut tercapai

Namun yang seringkali menjadi perhatian hanyalah Langkah No. 1, 2, dan 3. Kita sangat bersemangat melakukannya beberapa hari, minggu, bulan awal.
Bersyukur kalau dalam kurun waktu singkat, Goal/Tujuan sudah tercapai, namun kebanyakan tidak sesuai rencana, ada saja rintangan yang tiba-tiba menghadang ditengah jalan, tidak hanya eksternal namun juga internal, yaitu: diri kita sendiri.

Salah satu solusi yang ditawarkan NAS Consulting & Research adalah aplikasi CRM (Customer Relationship Management) dimana pada masa pandemi Covid-19 ini menjadi salah satu aplikasi yang dicari banyak perusahaan untuk memudahkan koordinasi divisi penjualan agar lebih mudah untuk melakukan absensi, berbagi tugas, serta melakukan pemantauan jadwal kunjungan dan status penjualan.

Saat memasarkan solusi ini, Langkah No. 1, 2, dan 3 boleh dibilang mudah dilewati. Kenyataan di lapangan membuktikan Langkah No. 4 kerap terganjal oleh  faktor internal diri sendiri, baik itu dari para staf, manajer penjualan, bahkan pimpinannya terkait kesediaan melakukan perubahan kebiasaan.

Pada akhirnya, ada saja pemilik bisnis yang menghentikan kontrak aplikasi dengan berbagai alasan:
“kita sudah coba aplikasinya, tapi tidak berhasil.”
“tim penjualan saya tidak nyaman menggunakan aplikasi ini.”
“saya lihat aplikasinya tidak efektif.. tim saya jarang membukanya.”

Biasanya kalau sudah begini, kami tidak akan berdebat. Karena buat kami, perusahaan-perusahaan tersebut belum siap untuk melakukan perubahan dan bahkan jauh sekali dari ambisi sebagai pemenang.

Sebagai gambaran, ada banyak merek aplikasi CRM yang dipasarkan, Sobat NAS bisa melakukan pencarian di internet. Yang jelas apapun mereknya, aplikasi CRM dipakai oleh semua perusahaan di Global Fortune 500, daftar 500 perusahaan dunia tersukses. Lantas kalau semua perusahaan sukses dunia menggunakannya, dan Anda tidak… Menurut kami, Anda yang tidak benar-benar berambisi untuk sukses atau Anda mungkin hanya berambisi menjadi perusahaan yang biasa saja.

Sudah banyak sekali cerita kunci sukses melalui perbuatan-perbuatan yang konsisten. Sebut saja Thomas Alva Edison penemu lampu, Colonel Sanders sang penemu resep KFC, atau Howard Schultz pemilik Starbucks yang kopinya mungkin Sobat NAS nikmati setiap hari.

Orang-orang yang sukses tidak hanya konsisten… tapi juga persisten. Kalau kata orang Jawa, ngeyell… Tapi tentu ngeyel yang positif. Bukan ndableg… atau mungkin dalam bahasa Indonesia disebut bebal.

Di akhir artikel, kami mau membagikan cerita atau mengingatkan kembali, jika sudah pernah membaca cerita mengenai “Pohon Bambu.”

Saat Sobat NAS menanam bibit pohon bambu, dalam beberapa tahun pertama pasti akan sangat kecewa. Di saat pohon lain sudah tumbuh besar, berbunga, dan berbuah. Pohon bambu malah belum kelihatan apa-apa. Namun menjelang tahun kelima, dia akan tumbuh sangat cepat mengalahkan pohon-pohon lainnya. Apa yang terjadi? Karena tahun-tahun pertama hidupnya, pohon bambu menumbuhkan dulu akar-akar yang kuat, supaya ketika waktunya pohon bambu bertumbuh tinggi mencapai beberapa meter, akarnya sudah siap menopang dan pohon bambu tetap tegak berdiri.

Nah… Apakah Sobat NAS atau perusahaan Anda mau menjadi seperti rumput ilalang yang cepat tumbuh namun segitu-segitu saja, yang kemudian beberapa bulan kemudian mati. Atau berinvestasi secara konsisten dan persisten demi hasil yang maksimal dan long-lasting. Semuanya terserah, Sobat NAS!

Ps: kalau penasaran dengan aplikasi CRM, jangan sungkan untuk menghubungi kami di WhatsApp: +62 812 8415 9855. tanya-tanya GRATIS kok, gak usah bayar!

 

 

 

 

 

 

Yes! We got through it well

Apresiasi dan terima kasih yang tulus dari lubuk hati untuk para klien dan mitra bisnis atas dukungan dan kepercayaan kepada kami, NAS Consulting & Research.

Dengan menerapkan sendiri prinsip #agility dan #resiliency yang kami bagikan kepada para klien, kami bangga bahwa dimasa sulit akibat pandemi Covid-19, bisa membuktikan bahwa kami tidak menjual “omong kosong”.
Hasilnya, tahun 2020, kami tetap tumbuh positif, bahkan cukup memuaskan.

Sekali lagi terima kasih banyak untuk para klien dan mitra bisnis. Suatu kehormatan dan kebahagiaan untuk kami bisa berjalan bersama dengan Anda semua.

“𝑊ℎ𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑒𝑝𝑠 𝑦𝑜𝑢 𝑎𝑤𝑎𝑘𝑒 𝑖𝑠 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑖𝑛𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑜𝑓 𝑦𝑜𝑢𝑟 𝑏𝑢𝑠𝑖𝑛𝑒𝑠𝑠.
𝑇𝑜𝑔𝑒𝑡ℎ𝑒𝑟 𝑤𝑒 𝑔𝑟𝑜𝑤 𝑦𝑜𝑢𝑟 𝑐𝑜𝑚𝑝𝑎𝑛𝑦 𝑎𝑛𝑑 𝑚𝑎𝑘𝑒 𝑖𝑡 𝑠𝑢𝑠𝑡𝑎𝑖𝑛𝑎𝑏𝑙𝑒.”

𝑨𝒓𝒊𝒆𝒇 𝑳𝒆𝒔𝒕𝒂𝒅𝒊, 𝑭𝒐𝒖𝒏𝒅𝒆𝒓 & 𝑪𝑬𝑶

 

 

 

 

Every customer is unique, listen to each of them

Masih teringat jelas, kejadian beberapa tahun silam. Team saya meminta didampingi untuk bertemu dengan pimpinan customer yang katanya sudah naik pitam karena ulah team project kami.

Kami segera berdiskusi untuk menggali akar masalah dan memutuskan beberapa alternatif sebagai amunisi saat bertemu customer. Berhubung kami ini engineering company, solusi2nya lebih banyak bersifat teknis.

Hari pengadilan tiba, kami duduk di kursi pesakitan dimana customer yang buas siap menerkam kami. Saya mempersilahkan customer mengungkapkan semua uneg2nya.

Anehnya.. Saya tidak menemukan hal teknis dalam concern sang pimpinan. Karena itu saya ubah haluan, ganti layar.. Kami sampaikan bahwa kami paham dan siap mendukung cita-cita sang pimpinan.

Akhir cerita, kami mendapatkan kembali kepercayaan sang pimpinan, malah pulang membawa tambahan order.

Setiap customer itu unik, punya motif atau kepentingan pribadi masing-masing.
Dengarkan mereka satu persatu, dukung dan bantu wujudkan cita-citanya.
Niscaya kamu dapatkan kepercayaan dan order darinya.

oleh: Arief Lestadi, CBHA, QWP

#indonesia
#salesmarketing
#salesstory
#ceritasales
#jakarta #bandung #surabaya

 

 

 

 

 

Segitiga Proses

Banyak orang dan bisnis di luar sana iri dengan kesuksesan pribadi atau perusahaan lain, lantas tertantang mencoba menyamai atau melampauinya.

Tapi seringnya, mereka tidak ingat bahwa ada proses yang harus dilalui. Saya ada memberikan konsultasi dimana pebisnisnya tidak sabaran dan prinsip ekonominya ketat banget, “resources sehemat mungkin, growth setinggi mungkin.” Lha.. Mana bisa?

Lihat saja pribadi atau perusahan sukses itu mereka USAHA keras bertahun-tahun untuk mencapai posisi sekarang. Lha ini baru setahun sudah bilang, “you underperformed, bye!” lalu hire orang baru, setahun ganti lagi, terus saja sampai orang ke-5, dan berhasilll… Yeayy…

Berarti orang ke-5 ini hebat? Belum tentu.. Itu sudah 5 orang x 1 tahun berarti total WAKTU nya sudah 5 tahun. Ya wajar kalau berhasil.
“Tapi saya gak mau nunggu 5 tahun, Mas.. Keburu bubar usahanya.”
Ya kalau gitu hire 5 orang, kan jadinya 5 USAHA x 1 WAKTU = 1 USAHA x 5 WAKTU.

“Kurang, Mas.. Harus lebih cepat lagi!”
Nah kalau gitu tambah satu faktor lagi, yaitu DOA. Jangan cuma doa satu orang, tapi doa banyak orang. Karena itu coba check, apa bisnismu berdampak positif untuk banyak orang? Supaya mereka juga ikut doain! Atau CSR nya digerakkan.. Supaya dapat doa juga.

USAHA x WAKTU x DOA
Niscaya akan berhasil!
Mau ngajak saya ngopi ?

oleh: Arief Lestadi, CBHA, QWP

 

 

 

Pengalaman Tidak Akan Pernah Usang

Beberapa waktu yang lalu saya membaca status dari salah satu kawan yang berpesan supaya kita tidak sekedar membanggakan pengalaman, karena orang lain terutama kaum muda sangat inovatif dan cepat dalam mengejar ketertinggalan.

Bagi saya, pengalaman tidak akan pernah menjadi usang. Cepatnya kaum muda untuk catch-up, karena mereka secara konsisten melahap sejumlah pengetahuan, entah itu dari buku, internet, dan media sosial. Pengetahuan itu sejatinya dari pengalaman juga, tapi bukan pengalaman pribadi, melainkan pengalaman orang lain.

The Intern: Experience never goes out of fashion

Foto pada tulisan saya ini diambil dari film 𝑰𝒏𝒕𝒆𝒓𝒏, yang dibintangi oleh Anne Hathaway dan Robert De Niro. Robert adalah seorang veteran VP Sales perusahaan Yellow Pages, yang sudah tutup, karena tentu saja di era digital ini, siapa lagi yang melihat buku kuning tebal itu? Sementara Anne adalah pendiri dan pemimpin startup fashion yang kesuksesannya melejit dalam waktu kurang dari 2 tahun. Saya merekomendasikan Sobat NAS yang belum, untuk menonton film tersebut.

Anne awalnya menganggap Robert hanya sebagai pengganggu, karena meyakini si tua ini tidak akan mengerti ritme kerja startup. Namun Robert membuktikan bahwa pengalamannya selama puluhan tahun memperkaya perusahaan untuk bisa mengambil keputusan yang baik dengan cepat. Demikian pula sebaliknya, Robert yang kesulitan dalam membuat akun Facebook dibantu oleh Anne supaya dia bisa mengikuti trend masa kini.

Kolonial vs Milenial

Singkatnya, terkadang orang yang sudah berumur mengalami apa yang disebut “𝒑𝒐𝒔𝒕 𝒑𝒐𝒘𝒆𝒓 𝒔𝒚𝒏𝒅𝒓𝒐𝒎𝒆” sehingga menganggap mereka yang usianya lebih muda tidak tahu apa-apa. Demikian sebaliknya yang muda juga sering menganggap orang yang berumur adalah orang kolot, kuno, dan tidak berguna lagi.

​Karena itu dibutuhkan rasa mawas diri, rendah hati, dari siapapun juga untuk bisa survive, terutama di Era New Normal, yang saya yakini belum ada seorang pun yang memiliki pengalaman menghadapi pandemi sehebat ini. Jika Anda adalah anak muda yang tersinggung dengan ucapan yang lebih tua, atau Anda adalah orang berumur yang merasa lebih pengalaman dari anak muda. Baiknya kecilkan ego Anda supaya dunia ini tidak penuh sesak dengan energi yang kurang positif. Karena kita butuh kerjasama yang kompak untuk mengatasi Resesi Dunia kali ini.

 

 

Menikmati Proses Menuju Kesuksesan

Ada seorang motivator yang mengatakan, “kalau kamu tidak mau membayar harga untuk kesuksesanmu, maka kamu akan dibayar untuk mewujudkan kesuksesan orang lain.”

Sesulit itukah untuk sukses? Apakah memang sukses perlu pengorbanan, cucuran air mata, keringat, dan darah? Pernahkah kamu melihat pebisnis yang susah payah membangun bisnis, namun ditipu pelanggan hingga bangkrut, atau seorang profesional yang kerja pagi siang sore malam, namun karirnya mandek?
Atau pernahkah kamu mendengar ada profesional yang baru pindah kantor, dalam 6 bulan sudah promosi jadi supervisor, dan setahun kemudian promosi jadi manager?

Saya setuju bahwa sukses memerlukan proses. Mie instant saja tidak bisa langsung dimakan, paling cepat tetap perlu 3 menit untuk menyiapkannya. Saya setuju bahwa ada harga untuk menuju kesuksesan, bisa berupa materi, waktu, tenaga, pikiran, namun penderitaan bukanlah harga sebuah kesuksesan.

Kunci kesuksesan sebenarnya terletak pada bagaimana kamu menikmati proses menuju kesuksesan. Kalau pikiranmu damai, hatimu ikhlas, dan tubuhmu bahagia, niscaya kesuksesanmu di depan mata. Amin.

Hikmah Dalam Setiap Keputusan

Saya teringat dulu semasa bekerja, sering memprotes keputusan yang diambil atasan, karena menurut saya dasar pengambilan keputusan kurang kuat.

Memang keputusan yang diambil, baik dalam keluarga, kantor, maupun negara, kerap tidak sesuai dengan keinginan kita, namun salah satu mentor saya berpesan, “keputusan yang diambil adalah benar dan terbaik saat keputusan tersebut diambil.”

Masih ingat Henry Ford pernah berkata, “If I had asked people what they wanted, they would have said faster horses.” (jika saya bertanya kepada orang banyak apa yang mereka mau, mereka pasti akan menjawab kuda yang lebih cepat). Kalau saja Henry Ford tidak ngeyel membuat mobil, ketimbang kereta kuda yang lebih cepat, tentu kita tidak memiliki mobil seperti sekarang ini.

​Dalam menanggapi sebuah keputusan, kita kerap defensif. Padahal bisa jadi sang pengambil keputusan mengetahui hal yang tidak kita tahu, sesuatu yang lebih helicopter view. Masih ingat keputusan mengenai Busway yang dulu diprotes namun sekarang dinikmati banyak orang? Jadi… meniru slogan teh botol sosro, pesan saya adalah, “apapun keputusannya… selow aja brayy…!!”