Kerja gini-gini aja, gak ada progress… Saya pingin jadi pengusaha!

Bagi kalian yang liburan Hari Raya Idul Fitri 1440 H ini sedang galau to the max…
Pertama, gaji ga naik
Kedua, bonus seciprit
Ketiga, pekerjaan tidak berkembang, tidak ada promosi, pindah posisi, dll.
Satu-satunya yang bikin hepi, hanya dapat THR yang habis juga gitu sampai kampung halaman.

Kemudian, di tengah sawah yang menghampar hijau, kemudian kalian berkhayal…
Betapa asyik dan nikmatnya jadi pengusaha.
Namun apakah betul menjadi pengusaha itu keren seperti yang banyak diceritakan?
Simak dulu video berikut ini, dan berikan komentar kalian.

Selamat Idul Fitri… Mohon Maaf Lahir dan Batin.. 

Mengapa Bisnis Saya Jalan di Tempat?

Pernahkah Anda mengalami kondisi, “Kok bisnis saya gitu-gitu aja ya?”
Sudah lama jalanin bisnis, kok gak ada peningkatan ya?
Gimana ya Caranya tembus puluhan juta atau ratusan juta sebulan?
Capek? Bingung? Sedih?

Jika Anda pernah mengalaminya, ada baiknya Anda baca pesan ini sampai habis.
Insya Allah akan ketemu jawabannya.

Setidaknya ada 5 Alasan kenapa Bisnis “JALAN DI TEMPAT.”

1. Tidak pernah kepikiran mau besarkan bisnis
Mikirin aja gak pernah, gimana mau membesarkannya?
Dalam bisnis, apa yang tidak pernah di bayangkan, tidak akan jadi kenyataan.

2. Tidak tekun
Baru sebulan, ngeluh.. Baru setahun, ganti bisnis..
Padahal mungkin saja, ditambah usaha sedikit lagi saja pasti akan berhasil.
Harusnya suka duka komitmen dijalani, karena sukses dan gagal adalah satu paket.
Setelah gagal, pasti ada hikmah yang dapat dipetik untuk memperbaiki keadaan.

3. Salah gaul
Alias berkumpul dengan orang-orang yang tidak membangun bisnis.
Sebenarnya boleh berkumpul dengan siapa saja, tapi jangan setiap waktu,
Karena teman berkumpul kita akan mempengaruhi pencapaian kita.
Ini pentingnya berteman dengan orang yang satu frekuensi. untuk menambah semangat.

4. Tidak mengerti cara atau ilmunya
Gak tau cara inilah.. Gak tau cara itulah..
Malas belajar..
Bisnis itu menggunakan logika,
Kita harus tau cara dan ilmunya, supaya tumbuhnya cepat.

5. Tidak punya mentor
Tidak memiliki pembimbing, sehingga tidak memiliki tempat bertanya.
Kalau salah, tidak ada yang memberi tahu.
Kalau mentok, tidak ada yang mengarahkan jalan keluar.

Setelah membaca hal diatas, sadarkah Anda..

Sukses itu yang menentukan hanya 2, yaitu:
Satu, Allah SWT,
Kedua, pengusahanya itu sendiri.

Kamu gak mau kan, gitu-gitu terus?
Solusinya adalah,
Jika ingin bisnis bertumbuh, caranya adalah harus meningkatkan kapasitas diri.

Perbaiki 5 hal di atas, Insya Allah bisnisnya akan ada peningkatan.

Salam…☺

Venture Capital vs Venture Builder

Artikel kali ini akan menjelaskan mengenai perbedaan antara Venture Capital dan Venture Builder, serta seberapa siap kita menghadapi tantangan tahun 2020.

Sebelum kebagian penjelasan, silakan disimak dulu cerita berikut ini:
Ada seorang pebisnis startup bernama Andrew, usahanya menjual paket pelatihan teknis untuk segmen pertambangan dan oil & gas dengan mendatangkan pembicara ahli dari USA dan Eropa. Usaha ini bermula pada tahun 2013 dimana pada tahun pertamanya, langsung berhasil meraih omset sebesar Satu Milyar Rupiah. Merasa yakin usaha ini dapat terus berkembang, Andrew memindahkan tempat usaha yang tadinya hanya sewa apartment menjadi sewa kantor di pusat kota. Sayangnya tahun 2014 terjadi resesi global, namun alih-alih melakukan efisiensi, Andrew berkeyakinan bahwa usahanya tidak akan banyak terdampak, dia terus menggenjot promosi bahkan ke mancanegara, dan juga menambah modal karena kas perusahaan semakin menipis. Dalam keadaan genting, dia mengajak adiknya, Samuel, lulusan MBA dari Singapura untuk ikut serta mendongkrak kinerja perusahaan. Namun karena Samuel pun tidak mengerti model bisnisnya, dia tidak dapat berbuat banyak, sehingga usaha ini kemudian kandas di tahun 2016. 

Walaupun saat ini Anda tidak sedang berinvestasi atau memulai sebuah startup, secara tidak sadar bisa saja Anda mengikuti model Venture Capital ketimbang Venture Builder dalam menjalankan bisnis yang sedang Anda tekuni sekarang ini.
Sebagai pemilik, Anda terus-menerus menyuntikan waktu, tenaga, dan modal Anda kedalam bisnis, inilah yang disebut sebagai model Venture Capital.

Model Venture Capital merupakan bagian dari konsep Society 4.0 – the Information Society, dimana konsep ini memperkenalkan adanya tiga karakter dalam setiap bisnis:

  • The Founder, orang yang memulai bisnis dari sebuah ide yang briliant
  • The Funder, orang yang menginvestasikan uangnya supaya bisnis berkembang
  • The Farmer, orang yang bekerja untuk membuat bisnis berkembang

Sekarang ini, Anda bisa saja merangkap ketiganya sekaligus. Namun pada titik tertentu Anda harus memilih, bagian mana yang hendak Anda percayakan kepada orang lain. Dalam model bisnis Venture Capital, The Funder selalu bergantung kepada The Founder yang merangkap sebagai The Farmer. Itulah sebabnya, perusahaan-perusahaan investasi (Venture Capital) yang banyak menjamur belakangan ini, hanya menargetkan satu dari sepuluh investasi mereka yang akan sukses besar.

Namun waktu berubah, dalam konsep Society 5.0 – the Impact Society, kita belajar bagaimana caranya untuk membangun sebuah bisnis yang sehat. Model bisnis Venture Builder tidak lagi bergantung kepada The Founder untuk menjadi The Farmer.

Perusahaan seperti Google, Amazon, dan Apple membeli banyak perusahaan dan membantu para pendirinya untuk memperbesar skala usahanya. Dalam model Venture Builder, The Funder juga memiliki keahlian untuk menjadi The Farmer. Hasilnya, tingkat kesuksesan meningkat sangat pesat.
Penyebab bisnis gagal bukanlah karena mereka tidak dapat menjadi The Founder atau The Funder yang baik, melainkan karena mereka gagal menjadi The Farmer.

Dengan konsep baru ini, Anda tidak perlu bersusah payah lagi menjadi The Funder dengan menghabiskan seluruh tabungan untuk memperbesar skala usaha. Anda bisa bergabung dalam sebuah komunitas, asosiasi, atau perkumpulan para pengusaha yang memiliki mentor yang dapat membantu Anda untuk bisa naik kelas.

Belajarlah supaya tidak bernasib sama seperti Andrew dan Samuel yang meyakini hal yang salah dengan melakukan trial and error tanpa memiliki keahlian yang mumpuni.
Apakah Anda tahu, apa hal yang paling menyedihkan dari kejatuhan yang di derita Andrew? Setelah dia kehilangan segalanya, dia masih berkata “aku masih tidak mengerti apa yang salah dari bisnisku!?”

Mengutip apa yang dikatakan oleh Benjamin Franklin, “Satu hal yang lebih mahal daripada sebuah pelajaran adalah ketidakpedulian akan apa yang telah terjadi.”

4 Alasan Mengapa Bisnis Bisa Gagal

Menurut hasil survey yang dilakukan oleh Entrepreneurs Institute, berikut adalah 4 alasan utama mengapa sebuah bisnis bisa gagal atau bangkrut.

  1. Alasan Pertama sebanyak 42% adalah karena produk atau jasa yang dijual tidak memiliki pasar yang cukup besar untuk berkembang. Banyak sekali pengusaha yang memulai bisnisnya dengan sebuah idealisme yang ada dalam pikirannya, tanpa memeriksa lebih jauh apakah ada cukup banyak orang yang sependapat dengannya. Bisnis akan maju kalau kita dapat memecahkan masalah banyak orang, seperti yang dilakukan oleh Nadiem Makarim dengan Go-Jek nya. Bahkan dengan Go-Glam, Nadiem menawarkan solusi untuk para wanita yang ingin creambath, nailcare, atau make-up. Namun apakah kalian tahu mengapa Go-Life tidak menawarkan jasa potong rambut untuk pria, misalnya? Karena mereka sudah melakukan riset bahwa potong rambut di rumah itu tidak nyaman, selain kotor karena banyak sampah potongan rambut, para pria juga tidak suka menunggu lama tukang cukurnya untuk datang ke rumah.
  2. Alasan Kedua sebanyak 29% adalah karena pengusahanya kehabisan uang pada tahun pertama menjalankan bisnis. Sekarang ini banyak sekali media memberitakan bahwa jika ingin kaya maka harus menjadi pengusaha, sehingga orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi pengusaha. Mereka tidak berhitung dengan cermat, berapa investasi yang harus disediakan sampai mereka mendapatkan pelanggan yang repeat order sehingga bisa mulai mendapatkan profit. Dari hasil survey yang kami lakukan kepada para pengusaha UMKM di Indonesia, umumnya menjawab untuk sampai di titik profitable, mereka memerlukan waktu setidaknya 2 – 3 tahun. Nah, silakan dihitung berapa biaya operasional bisnis Anda setahunnya, jangan lupa ditambah biaya pajak, BPJS, bunga bank (jika Anda menggunakan modal pinjaman), kemudian dikalikan tiga. Senilai itulah perkiraan biaya yang Anda perlukan untuk menjaga bisnis Anda tetap operasional sampai profitable.
  3. Alasan ketiga sebanyak 23% adalah mereka tidak memiliki tim yang tepat dan berkomitmen. Memulai suatu bisnis bersama dengan rekan yang sevisi sangat menyenangkan, sehingga bisa saling bertukar pikiran dan mengoreksi supaya bisnis dapat tumbuh dengan cepat. Namun menurut beberapa orang, mencari rekan bisnis sama seperti mencari pasangan, susah susah gampang, cobaan terberat akan datang saat bisnis menjadi booming atau bisnis menjadi bankrupt. Apabila sukses, akan terjadi saling klaim, berkat saya bisnis ini sukses, atau jika rugi, akan terjadi saling tunjuk, karena kamu bisnis kita jadi berantakan. Untuk itu, NAS Consulting & Research memiliki sistem assessment yang dinamakan Wealth Dynamics, dimana kita bisa mengerti profile kekayaan kita maupun rekan bisnis sehingga bisa saling mengerti sejak awal mengenai karakter masing-masing.
  4. Alasan keempat sebanyak 14% adalah karena mereka mengabaikan suara pelanggan. Masukan dari pelanggan, seperti masakan Anda terlalu asin, atau kualitas jahitan Anda tidak standar, atau mutu produksi Anda kurang optimal adalah sesuatu yang perlu Anda perhatikan. Jangan pernah picik dengan berpikir, “tidak masalah satu komplain, orang lain di bumi Indonesia ini ratusan juta, pasti ada yang mau membeli dagangan saya.” Apakah Anda pernah tahu atau mendapat cerita mengenai ada warung bakmi yang pelanggannya mendapati kecoa kecil di mangkuknya, kemudian tidak lama setelah itu warung bakmi tersebut tutup, karena tidak ada pelanggan lagi yang mau makan di sana? Perusahaan-perusahaan raksasa dunia, seperti: Unilever, Nestle, Danone, dll menghabiskan dana yang tidak sedikit setiap tahunnya untuk mendengarkan suara pelanggan dan memastikan bahwa produk-produk mereka tetap disukai, melalui riset dan survey, seperti yang dilayani oleh NAS Consulting & Research.

Demikian semoga tulisan ini menjadi inspirasi untuk para pebisnis sekalian, jika membutuhkan informasi lebih lanjut atau ingin berdiskusi, silakan menghubungi kami, free konsultasi untuk pertemuan pertama. Salam.

Personalized innovative product

For attracting buyers to buy your product usually, we were animated the market with price and promotion. It is common for commodity products, such as rice, cooking oil, soap, detergent, and so on.
For high tech products, you should use a different approach, you need to make your product fit with user needs, millennial people today look for a personalized product.

A good example of these is played in the video below. Watch it until finish and give your comment, how cool this Gatebox as your companion? 😀😁